Oleh: rhodesyup1 | Juli 30, 2009

“NUR” Dalam Arti Hidayah

blue space waveFirman Allah SWT:

(اللَّهُ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْض)
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi”.

Allah SWT adalah Dzat yang memasukkan hidayah dan iman di dalam hati seorang hamba. Hanya Allah yang menghendaki adanya iman di dalam hati seorang hamba. Seandainya tidak, maka tidak ada lagi yang mampu menjadikan orang beriman kepada-Nya, bahkan Malaikat sekalipun.

 Allah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّنَا نَزَّلْنَا إِلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةَ وَكَلَّمَهُمُ الْمَوْتَى وَحَشَرْنَا عَلَيْهِمْ كُلَّ شَيْءٍ قُبُلًا مَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ يَجْهَلُونَ
“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. al-An’am; 111)

Seperti orang yang matanya buta, meski matahari sedang tinggi, tetap saja alam dalam keadaan gelap gulita. Seperti itu keadaan orang yang hatinya ingkar, meski Kitab-Kitab langit sudah diturunkan di muka bumi, Rasul dan Nabi diutus untuk membimbing manusia, Ulama’ disebarkan dengan membawa “ilmu warisan”, tetap saja orang tersebut tidak mau beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Itu bisa terjadi, karena yang buta bukan mata yang di kepala, tapi “matahati” yang ada dalam rongga dada.

Allah telah menegaskan dengan firman-Nya yang artinya:
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.”. (QS. Al Hajj; 46)

Oleh sebab itu, tidak semua orang mempunyai ilmu agama Islam pasti memiliki iman. Karena kedudukan ilmu di akal sedangkan kedudukan iman di hati. Mengapa demikian … ? karena yang dikelola hanya “ilmu” bukan “iman”. Terlebih dengan orientasi duniawi, sehingga tidak segan-segan orang Islam menimba ilmu Agama Islam kepada orang yang bukan Islam, sekedar secara formal agar lebih mendapatkan pengakuan. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan hidup duniawi, ilmu agama Islam ini kini marak dijual murahan di panggung-panggung pengajian yang dikelola seperti panggung hiburan. Bukannya mengajak manusia ke jalan Allah, tetapi malah untuk mengocak perut dengan dagelan sambil menjual ayat dengan dikolaborasikan musik dangdutan agar sajian laku terjual.

Apabila niat di dalam hati ternyata benar-benar hanya untuk mencari keuntungan duniawi, bukan ibadah, berarti sama saja orang tersebut telah berkhianat kepada amanat ilmunya sendiri. Akibatnya, boleh jadi orang tersebut akan dimasukkan neraka akibat penerapan ilmu agama yang mereka miliki itu. Gambarannya seperti lilin, memberikan penerangan kepada orang lain tapi menghancurkan diri sendiri. Itulah kerugian yang nyata, rugi dunia dan akherat.

Adapun “Nur” dalam arti Hidayah atau sampainya iman ke dalam hati seorang hamba, telah ditegaskan Allah dalam firman-Nya:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آَمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman ; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya”. (QS. al-Baqoroh; 2/257)

Karena Allah mencintai orang-orang yang percaya (iman), maka Allah senantiasa menolong mereka dengan mengeluarkan dari kegelapan kafir dan syirik menuju cahaya tauhid. Bahkan menghidupkan hati mereka yang asalnya sudah mati disebabkan oleh kerak dosa yang menempel bagai karat hingga menjadi suci dan bersih dan kembali disinari hidayah iman.

Allah telah menegaskan hal itu dengan firman-Nya:
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan bukankah mereka adalah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya”.(QS. al-An’am; 6/122)

Dengan Nur iman itu, hati yang asalnya kaku dan keras, menjadi lunak dan lentur. Hati yang mati menjadi hidup kembali. Bahkan yang asalnya bodoh menjadi mengerti. Hasilnya, hati itu kian peka kepada keadaan sekelilingnya sekaligus juga gampang menerima pendapat orang lain walau kadang kala tidak sefaham dan bertentangan dengan pendapatnya sendiri. Selanjutnya, berkat kebaikan budi pekerti yang disinari iman itu, akhirnya lingkungannya pun menjadi baik karenanya.
Allah SWT berfirman:
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu “Ruh” (Al-Qur’an) dari urusan Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami”. (QS. asy-Syuura.42/ 52)

Di dalam ayat di atas, “Nur Hidayah” yang mampu menghidupkan iman dan hati yang mati disebut “Ruh”. Nur tersebut asal kejadiannya hanya satu, yaitu “Nur Muhammad SAW”, makhluk yang pertama kali diciptakan Allah dari “Nur-Nya”. Ketika Nur itu dipancarkan di alam semesta, Nur itu kemudian bercabang dan menjadi bermacam-macam bentuk kebutuhan hidup manusia.

Bentuk kebutuhan itu di antaranya ialah : untuk mencukupi mata, maka Nur itu menjadi cahaya yang dipancarkan matahari. Untuk mencukupi kebutuhan akal dan fikir, maka Nur itu menjadi ilmu pengetahuan yang dipancarkan al-Qur’an dan hadits Nabi. Untuk menyediakan kebutuhan hati maka Nur itu menjadi sifat kasih-sayang yang dipancarkan sifat Rahman Allah. Dan untuk menyediakan kebutuhan ruh, maka Nur itu menjadi iman, yakin dan ma’rifatullah yang dipancarkan sifat Rahim Allah. Selanjutnya, dengan keempat indera tersebut (mata, akal, hati dan ruh) Ulama’ sebagai pewaris para Nabi dan Khalifah bumi zamannya bertugas memancarkan kembali Nur itu kepada alam yang ada di sekelilingnya.

 Allah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

إِنَّ رَحْمَةَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat dari orang-orang yang berbuat baik”.(QS. Al-A’raaf; 56)

Hanya Allah yang mampu berbuat demikian, menancapkan hidayah dalam hati manusia sehingga orang tersebut beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Adapun para khalifah bumi itu adalah pengganti Allah di muka bumi. Sebagai pelaksana kehendak dan takdir yang sudah ditetapkan-Nya sejak zaman azali, menyampaikan rahmat Allah yang sudah mereka terima kepada alam semesta menjadi rahmat yang universal yaitu “rahmatan lil ‘aalamiin”, baik rahmat lahir yang berupa ilmu pengetahuan maupun rahmat batin berupa iman, yakin dan ma’rifatullah. Para Kholifah Bumi itu tidak hanya menyampaikan ilmu Agama saja, terlebih dengan cara debat kusir yang tidak ada ujung pangkalnya. Disamping mereka itu selalu mengajarkan ilmu pengetahuan dan pemahaman hatinya dengan sabar, juga menuntun umatnya dalam pelaksanaan amal ibadah dengan didasari akhlak mulia untuk berjalan bersama menuju keridhoan Ilahi Rabby.

Nur Kehidupan

Manusia dikatakan hidup apabila seluruh indera yang dimiliki—baik yang lahir maupun yang batin—hidup. Apabila indera-indera tersebut mati (tidak berfungsi sebagaimana mestinya), terlebih indera yang batin, berarti manusia itu hakekatnya mati meski masih bernyawa. Sebab, meski indera lahirnya hidup, dengan matinya indera batin, sungguh tidak ada lagi yang dapat diperbuat oleh manusia tersebut kecuali hanya makan dan bersenang-senang. Selanjutnya kenikmatan itu harus dipertanggungjawabk an dengan siksa neraka Jahanam.

Allah menggambarkan keadaan mereka itu melalui firman-Nya:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

“Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka”. (QS. Muhammad; 12)

Makan seperti cara makan binatang ternak itu artinya ‘hidup untuk makan’ bukan ‘makan untuk hidup’. Akibat dari itu, meski badan mereka sehat tapi hatinya penuh dengan penyakit dan bahkan mati. Di dalam firman-Nya yang lain,

Allah menggambarkan keadaan mereka di neraka:

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (2) ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akherat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim(2) Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka itu)”. (QS. Al Hijr; 2-3)

Itulah gambaran kehidupan orang yang tidak beriman kepada Allah dan rasul-Nya, meski secara lahir kelihatannya hidup bahkan mampu mengelola dunia dengan baik, namun sejatinya itu adalah kehidupan yang mati.

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan bukankah mereka adalah mati, kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya”. (QS. al-An’am; 6/122)

Yang dimaksud ‘orang mati’ dalam ayat di atas bukan orang yang nyawanya sudah dicabut sehingga jasadnya harus segera dikubur, tapi hatinya sedang beku dan kaku, sehingga meski jasad itu masih dalam segar bugar, namun tidak dapat memberikan manfaat yang berarti bagi dirinya sendiri. Hal itu bisa terjadi, karena matahatinya sedang ditutupi mendung kerak dosa dan kabut sifat-sifat duniawi yang terlanjur menjadi karakter dasar perilaku hidupnya sehari-hari.

Dikatakan mati karena orientasi hidupnya pendek dan sempit, hanya dibatasi oleh kematian di dunia namun panjang angannya, penuh fatamorgana yang menggoda. Artinya, setelah batas kematian itu terlewati, tidak ada lagi kehidupan menyenangkan baginya, yang tertinggal hanya siksa neraka yang pedih untuk selama-lamanya.

“Nur hidayah Allah”, melalui indera-indera lahir manusia tersebut seharusnya mampu menghidupkan kembali hati yang mati itu, dengan cara memadukan antara iman dan amal shaleh dalam pelaksanaan pengabdian hakiki. Adapun indera manusia pada hakekatnya hanya ada dua yaitu; (1) Bashoro atau indera lahir yang meliputi panca indera dan rasio (akal dan fikir) dan (2) Bashiroh atau indera batin (perasa) yang meliputi perasaan hati dan ruh atau ruhaniah. Dari kedua indera tersebut (bashoro dan bashiroh), indera manusia bercabang-cabang dengan cabang yang tidak terhitung, di mana masing-masing indera itu membutuhkan Nur kehidupan.

Maka kedua indera tersebut (bashoro dan bashiroh) masing-masing dibagi menjadi dua cabang.

1. Bashoro atau indera lahir yang terdiri dari dua indera:

a) Indera mata; membutuhkan Nur atau cahaya yaitu sinar matahari. Oleh karena itu, meski mata dalam keadaan melek dan sempurna, tanpa adanya sinar matahari, mata itu tidak dapat berfungsi sehingga tidak bermanfaat bagi manusia.

b) Indera akal; membutuhkan Nur berupa ilmu pengetahuan yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis. Sebagaimana mata tanpa sinar matahari yang tidak membawa kemanfaatan, akal juga demikian, tanpa ilmu al-Qur’an berarti akal menjadi mati. Untuk itulah fungsi Ilmu Al-Qur’an adalah sebagai Nur bagi akal sebagaimana fungsi matahari sebagai Nur bagi indera mata.

2. Bashiroh juga meliputi dua Indera:

a) Hati (القُلب); membutuhkan Nur yang berupa “rahmah” atau kasih sayang dan cinta kasih sebagaimana diisyaratkan Allah di dalam firman-Nya:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”. (QS. Ali Imran; 3/159)

وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang” (QS. ar-Rum; 30/21)

وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً

“Dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang”. (QS. al-Hadid; 57/27)

Hati tanpa kasih sayang menjadikan kehidupan seseorang kaku, sama dengan mata tanpa sinar matahari yang menjadi buta. Orang seperti itu hidupnya hanya mengutamakan diri sendiri tanpa peduli kepada orang lain. Bahkan ketika hatinya telah dipenuhi rasa dendam, seringkali manusia mampu berbuat kejam melebihi binatang buas.

 Itulah binatang paling tidak disukai Allah sebagaimana terungkap dalam firman-Nya:

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun”. (QS. Al-Anfal; 22)

 

Adapun hati yang lemah lembut karena ada Nur kehidupan di dalamnya, sekiranya tidak, niscaya hati itu akan menjadi kasar dan keras. Ketika hati itu kasar dan keras maka orang-orang di sekitarmu akan menjauhimu. (Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu).

Tanda-tanda hati yang telah mendapatkan Nur kehidupan itu ialah hati yang gemar memberi maaf kepada manusia dengan memohonkan ampunan kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS. Ali Imran; 3/134)

b) Ruh (Ruhaniah); Setelah ruh mendapatkan “Nur kehidupan” pertama yaitu iman, ruh juga membutuhkan Nur lagi yang disebut dengan “Nur Nubuwah” atau “Nur Walayah”. Nur kehidupan yang kedua itu berfungsi agar iman yang sudah ada menjadi semakin kuat dan yakin hingga menjelma ma’rifatullah. Tentang Nur Nubuwah ini telah dinyatakan Allah dengan Firman-Nya:

أُولَئِكَ الَّذِينَ آَتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kepada mereka kitab, hikmah, dan Nubuwah”. (QS. al-An’am; 6/89)

Nur Iman ibarat penglihatan, sedangkan Nur Nubuwah atau Nur Walayah itu ibarat mataharinya. Tanpa Nur yang pertama (iman), berarti sama saja seperti orang menjadi buta, maka Nur yang kedua (Nur Nubuwah atau Nur Walayah) itu tidak akan berguna bagi manusia. Oleh sebab itu, ilmu agama saja tidak cukup bagi manusia, tanpa iman, orang yang memiliki Ilmu Agama itu seperti orang buta sehingga ilmu agama itu sedikitpun tidak mampu memberikan petunjuk (hidayah) bagi hatinya sendiri. Seperti itulah gambaran orang yang hatinya ingkar, sehingga ilmu agamanya cenderung hanya dijadikan alat mencari kehidupan duniawi. Mengapa demikian itu bisa terjadi, karena sesunguhnya yang buta bukan akal dan matanya akan tapi hatinya:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”. (QS. Al Hajj; 46)

Namun demikian, orang yang sudah memiliki Nur Iman, tanpa Nur Nubuwah atau Nur Walayah, Nur Iman itu tidak dapat berkembang sempurna bahkan malah mati. Adapun satu-satunya jalan untuk menguatkan Nur Iman adalah amal shaleh, karena iman itu dapat bertambah dan berkurang dan bahkan juga dapat mati.

Mencari Nur Kehidupan

Keempat instrument kehidupan manusia, baik mata, akal, hati maupun ruh, sebagai anggota tubuh yang paling utama, merupakan perangkat (ware) atau sarana agar manusia dapat menjalani kehidupannya dengan baik. Dengan sarana itu mereka membentuk jati dirinya menjadi sebaik-baik manusia, dalam arti mampu memberi kemanfaatan kepada orang lain bukan kemadlaratan. Menjadi manusia yang mampu membangun dan menciptakan sumber kehidupan di muka bumi, bukan yang berbuat kerusakan. Menjadi khalifah bumi zamannya yang mampu melaksanakan amar ma’ruf dan mencegah kemungkaran. Itulah gambaran orang yan beriman kepada Allah dan rasul-Nya, sebagaimana yang telah dinyatakan Allah dalam firman-Nya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran; 110)

Potensi menjadi “sebaik-baik umat” adalah kenikmatan terbesar yang dianugerahkan Allah kepada Umat Muhammad SAW, baik dari kalangan orang JAWA maupun orang ARAB. Sebab, dengan sarana-sarana tersebut manusia tidak saja mampu menikmati kehidupan dengan baik, namun juga mengangkat derajat kemuliaan mereka di tengah manusia terlebih di hadapan Allah. Namun demikian, apabila sarana-sarana itu tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, maka manusia justru akan menjadi makhluk terhina dan ditempatkan di neraka Jahanam untuk selama-lamanya.

Sarana-sarana (ware) itu harus selalu terjaga dari penyakit yang dapat merusak fungsi kemanfaatannya agar manusia dapat mempergunakannya sebaik mungkin. Seperti mata, meski matahari sedang bersinar di langit yang cerah, kadang kala penglihatannya tidak berfungsi akibat adanya penyakit mata, maka seperti itu pula yang terjadi pada indera-indera yang lain. Terkadang manusia bahkan menolak sendiri hidayah yang didatangkan Allah untuk dirinya, hal itu disebabkan adanya penyakit sombong dan iri hati yang sedang menggerogoti hati.

Hanya saja, karena penyakit pada indera-indera selain mata, terlebih penyakit hati tidak gampang dirasakan, maka jarang penderitanya mau segera mengobati sejak dini, kecuali ketika hidupnya benar-benar sudah terancam kematian, sakit keras di pintu ajal kematian yang hampir menjemput, karena terbaring di rumah sakit saat otaknya harus dioperasi. Terlebih ketika harapan untuk hidup sudah kian menipis, maka pengidap penyakit hati itu baru mau sadar dan ingat bahwa dia ternyata punya Tuhan yang sebentar lagi akan menutup hidupnya dengan kematian. Bahkan merubah kesombongan dengan kehinaan, sehingga saat itu juga ia ingin bertaubat. Namun anehnya, ketika nyawanya berhasil diselamatkan sehingga kembali terbuka kesempatan untuk berbenah-benah dan bertaubat, terkadang orang tersebut belum juga mampu menghilangkan kesombongan itu untuk berbuat khusyu’ dan mengabdi kepada-Nya. Jika yang demikian itu terjadi, maka itu pertanda bahwa hati orang tersebut memang telah buta.

Ada beberapa cara untuk mendapatkan “Nur kehidupan”, hal itu bergantung jenis Nur yang dibutuhkan. Untuk mendapatkan sinar matahari orang tidak harus susah-susah mencari kesana kemari, asal matahari sedang tinggi, orang tinggal berjemur diri, karena sinar matahari sudah tersedia sepanjang kehidupan. Demikian juga dengan Nur akal, yaitu al-Qur’an dan Hadis, bahkan Nur akal ini lebih terjaga daripada Nur mata. Namun bedanya, apabila sinar matahari telah tersedia sejak alam ini diciptakan, Nur akal tidaklah demikian. Nur akal itu diciptakan Allah lalu diturunkan ke dunia melalui proses yang cukup panjang, dengan perjuangan dan pengorbanan selama 23 tahun, yaitu semasa terutusnya Junjungan kita Baginda Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, cara mendapatkan Nur akal tentunya tidak sama dengan cara mendapatkan sinar matahari. Nur akal itu harus didapatkan melalui usaha yang sungguh-sungguh, belajar dan menggali dari sumbernya dengan menempuh tata cara yang sudah ditentukan Allah. Sumber Nur akal itu ada dua, pertama dari kitab-kitab yang tersedia, baik al-Qur’an maupun Hadis dan yang kedua dari Nur Kahrisma yang memancar dari dalam dada para Ulama’ ahlinya. Yaitu perpaduan antara ilmu dan iman yang telah mampu diaktualisasikan dalam bentuk amal ibadah, perilaku dan akhlak yang mulia.

Adapun cara untuk mendapatkan Nur cinta, tidak lain dengan mengikuti konsep yang ditawarkan Allah melalui firman-Nya dibawah ini. Dengan terus menerus berdzikir dan bertasbih kepada-Nya, baik di waktu pagi maupun petang. Dimulai dzikir dengan lisan kemudian dimasukkan di dalam hati. Dzikir itu dilaksanakan dengan terus menerus sampai Allah mencintai dan menurunkan rahmat kepadanya. Allah menegaskan hal ini dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42) هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya( 41)Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang(42)Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman(43).“ (QS. al-Ahzab; 33/41-43)

Maksudnya, ketika dzikir dan tasbih yang dilakukan itu mampu menjadikan hati seorang salik ma’rifat dan cinta kepada Tuhannya, sebagai buahnya, hati itu akan mampu mencintai seluruh makhluk, sehingga, bahkan musuhnya merasa aman hidup berdampingan dengan orang tersebut. Buah ibadah itulah yang membuat hati para Ulama’ sejati mampu meredam gejolak amarah yang terkadang timbul dalam hatinya, bahkan tidak hanya itu saja, namun juga mampu menebarkan rahmat Allah kepada alam semesta.

Adapun untuk mendapatkan Nur Nubuwah atau Nur Walayah, caranya dengan melaksanakan tawasul secara ruhaniah. Orang yang bertawasul akan dipertemukan secara ruhaniah dengan orang yang ditawasuli. Oleh karena orang yang ditawasuli itu adalah orang yang telah mendapat kemuliaan dari Tuhannya, maka nur kemuliaan itu akan memantul kepada orang yang bertawasul. Itulah Nur Kharisma yang diwariskan dari penghulu manusia, satu-satunya sumber penebar rahmat untuk alam semesta, Rasulullah Muhammad SAW. Seperti bumi ketika disinari matahari, maka ufuknya yang asalnya gelap gulita menjadi terang benderang. Tidak hanya itu saja, orang yang mau bertawasul itu bahkan hidupnya akan mendapat tambahan keberkahan dari Allah SWT. Allah telah mengajarkan tawasul itu dengan firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya”. (QS. al-Ma’idah; 5/35)

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ (21) وَأَمْدَدْنَاهُمْ بِفَاكِهَةٍ وَلَحْمٍ مِمَّا يَشْتَهُونَ

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya – Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini”.(QS.Ath-Thur/ 21-22)

Indera Bashoro (mata dan akal) dihidupkan Allah semata-mata terbit dari kehendak-Nya yang azaliah. Sedangkan indera Bashiroh (hati dan ruh) harus dihidupkan sendiri oleh manusia, yaitu dengan pelaksanaan mujahadah dan riyadlah di jalan Allah. Ketika mujahadah dan riyadlah yang dilakukan itu sudah memenuhi unsur sebab, maka hati dan ruh akan dihidupkan Allah sebagai akibat. Allah telah menunjukkan demikian dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (beribadah) di jalan Kami, pasti benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami dan sungguh Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat kebaikan”.QS. al-Ankabut; 29/69)

Itulah hukum sebab-akibat, adalah sunnah yang tidak akan pernah berubah lagi untuk selamanya, maka siapapun dapat melakukannya asal mendapatkan bimbingan yang baik dari para ahlinya. Adapun secara singkat, yang dimaksud mujahadah ialah; usaha yang sungguh-sungguh dari seorang hamba untuk meredam kehendak nafsu syahwatnya sendiri melalui segala pelaksanaan ibadah, baik vertikal maupun horizontal, hal itu dilakukan dengan tujuan semata-mata melaksanakan pengabdian yang hakiki kepada Allah.

Tingkat Derajat Nur Kehidupan.

Kekuatan pancaran masing-masing “Nur kehidupan” berbeda-beda, hal itu mengikuti tingkat kesulitan dalam cara mendapatkannya. Matahari memancarkan cahaya untuk mata dan ilmu al-Qur’an juga memancarkan Nur untuk akal. Namun demikian, pancaran Nur al-Qur’an kepada alam melalui akal, hati dan ruh manusia jauh lebih kuat daripada pancaran sinar matahari kepada alam semesta. Artinya, Nur yang dipancarkan oleh jiwa suci Rasulullah Muhammad SAW jauh lebih kuat daripada cahaya yang dipancarkan matahari.

Terbukti, meski seharian sinar matahari mampu menerangi kehidupan di muka bumi, hingga kolong-kolong di dalam rumah bisa mendapatkan sinar, namun ketika “matahari langit” itu harus tenggelam di ufuk malam, maka sinarnya menjadi padam sehingga alam yang semula terang kembali menjadi gelap gulita. Padahal Nur Muhammad SAW tidaklah demikian, meski “matahari bumi” itu harus dipanggil untuk selama-lamanya karena masa tugasnya telah purna, namun sinarnya justru semakin cemerlang dan dalam waktu yang relatif singkat, melalui perjuangan para penerus dan pewarisnya, persada bumi menjadi terang benderang.

Selain itu, manakala sinar matahari langit hanya membawa manfaat kepada alam dunia, maka Nur yang dipancarkan Jiwa Suci Rasulullah Muhammad SAW bahkan mampu menyinari dunia dan akherat.
Oleh karena itulah, Allah mensifati matahari dengan istilah Siraaj di dalam QS. al-Furqon Ayat 61:

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيرًا

“Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya”. (QS. al-Furqon; 25/61)

Dan juga menyifati Rasul Muhammad SAW dengan istilah Siraaj di dalam QS. al-Ahzab:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (45) وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

“Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan(45) Dan untuk menjadi penyeru kepada agama-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi”.(QS. al-Ahzab; 33/45-46)

Nur yang memancar dari jiwa suci para Nabi adalah Nur yang dipancarkan Allah melalui para Elit Malaikat yang dimuliakan. Allah telah menyatakan yang demikian itu dengan firman-firman- Nya:

يُنَزِّلُ الْمَلَائِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ أَنْذِرُوا أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاتَّقُونِ

“Dia menurunkan para malaikat (dengan) membawa wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki diantara hamba-hamba- Nya yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang haq) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku”. (QS. an-Nahl; 16/2)

نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195) وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ

“Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril) (193) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan(194) Dengan bahasa Arab yang jelas(195)Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab yang dahulu(196)”. (QS. asy-Syu’araa’; 26/193-196)

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آَمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Ruh Qudus (jibril) menurunkan Al-Qur’an dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri”. (QS. an-Nahl; 16/102)

Artinya, “Nur kehidupan” yang memancar dari jiwa suci para Nabi tersebut, bukannya Nur yang langsung diterima dari Allah, melainkan melalui malaikat-Nya, yaitu malaikat Jibril AS. Dengan demikian menunjukkan bahwa “Nur kehidupan” yang dipancarkan oleh Elit Malaikat kepada para Nabi SAW itu tentu pancarannya lebih kuat daripada sinar yang dipancarkan oleh para Nabi SAW kepada umatnya. Yang demikian itu telah diisyarahkan pula oleh Allah:

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ (19) ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ (20) مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (jibril)(19) Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Yang Mempunyai ‘Arsy(20)Yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya(21)” (QS. at-Ta’wir; 81/19-21)

 Walhasil, kita dapat mengambil i’tibar, bahwa “Nur kehidupan” yang dipancarkan Allah di alam jasad, yaitu dari matahari kemudian memancarkan ke bulan dan bintang-bintang, lalu sinar itu masuk ke dalam bilik dan rumah-rumah yang kemudian memantul lagi dari kaca yang satu ke kaca yang lain sehingga alam menjadi terang, cara kerja seperti itu ternyata sama dengan cara Allah memancarkan Nur-Nya di alam jiwa manusia. Yaitu: pertama dari Elit Malaikat kemudian dipancarkan kepada para Nabi dan Rasul SAW selanjutnya kepada para Wali dan para Ulama’ dan seterusnya dan seterusnya, di mana tingkat derajat para Ulama’ itu telah disebutkan di dalam al-Qur’an al-Karim dengan urutan sebagai berikut; ash-Shiddiq, asy-Syuhada’ dan ash-Sholihin. (QS. An-Nisa’; 69)

Sistem kerja Nur seperti itu menunjukkan dengan jelas bahwa tidak mungkin manusia mendapatkan “Nur hidayah” dari Allah langsung kecuali dengan mengikuti cara kerja (sunnah) yang sudah dicontohkan tersebut. Barangsiapa berkehendak mendapatkan “Nur kehidupan” itu untuk dirinya, baik bagi akal terlebih untuk hati dan ruhnya, “Nur kehidupan” tersebut tidak mungkin bisa didapatkan langsung dari Allah melainkan harus dicari dari sumber-sumbernya di muka bumi. Merekalah para Nabiyin, Shiddiqin, Syuhada’ dan Sholihin.

Sebab, mereka itulah khalifah-khalifah bumi zamannya yang sudah mendapatkan hak untuk menyampaikan Nur Allah melalui aktifitas dan pengabdian hidup mereka, baik melalui dakwah, ibadah dan dzikir yang mereka kerjakan terlebih dari pancaran do’a-do’a dan munajat yang mereka panjatkan. Demikian itulah sunnatullah yang sejak diciptakan tidak akan ada perubahan lagi untuk selamanya.

Dengan asumsi bahwa Nur kehidupan tidak mungkin bisa didapatkan langsung dari Allah melainkan harus dicari dari sumber-sumbernya di muka bumi, maka pelaksanaan thariqah yang dibimbing oleh guru Mursyid yang suci lagi mulia adalah solusi paling mutlak yang harus dilakukan oleh para pengembara (salik) di jalan Allah atau orang yang ingin menghidupkan sumber Nur kehidupan di dalam jiwanya sendiri. Sebab, hanya dengan jalan bertariqah itulah, iman yang sudah ada di dalam hati seorang hamba akan bertambah cemerlang, menjadi yakin dan bahkan ma’rifatullah. Dalam arti dengan mengikuti apa yang diajarkan dan dicontohkan oleh seorang guru Mursyid yang mempunyai pertalian (rabithah) ruhaniah yang kuat dengan para guru Mursyid sebelumnya secara sambung-menyambung dari guru mursyid ke guru mursyid sebelumnya hingga silsilah (transmisi)nya sampai kepada Maha Guru yang mulia yaitu Nabi Besar Muhammad SAW.

Hanya para guru Mursyid thariqah itulah yang mampu melaksanakan cara kerja yang cerdik itu. Membimbing murid-murid dan anak asuhnya untuk dapat meningkatkan iman mereka. Sehingga terbukti, murid-murid yang semula bisanya hanya berbicara saja, bahkan kadangkala dicampuri dengan kesombongan yang kosong, setelah mendapatkan tempaan dari guru Mursyid tersebut, menjadikan mereka tunduk dan tawadhu’. Murid-murid yang baik itu selanjutnya mampu meningkatkan iman dan takwa itu tidak hanya dilahirkan secara ilmiah saja, namun juga diwujudkan dengan amal ibadah, pengabdian dan pelaksanaan akhlak yang mulia. Sebagian murid itu kemudian bahkan ada yang menjadi badal atau perpanjangan tangan guru Mursyidnya. Menjadi “khalifah mursyid” dan penerus pengabdian yang hakiki. Di manapun berada, bersama masyarakat setempat mereka mengembangkan thariqah itu, sehingga menjadi komunitas persaudaraan yang kuat dan mandiri di mana-mana.

Dengan cara seperti itu akhirnya thariqah berkembang di seluruh belahan bumi. Menembus dimensi waktu dan generasi yang berbeda. Adakah selain thariqah mampu melaksanakan amal yang utama itu? Merajut aspirasi yang berbeda dari berbagai generasi yang berbeda pula untuk ditampung di dalam satu wadah yang sama di dalam kurun waktu dan dimensi zaman yang berbeda? Itulah semangat “Ukhuwah Islamiah” sejati. Fenomena dan sejarah telah berbicara, maka hati yang selamat hendaknya tidak harus terlalu dipusingkan oleh sepak terjang orang-orang yang mengingkari keberadaannya.

Alhamdulillah wa syukru lillah.

Sumber : KH Muhammad Luthfi Ghazali

Iklan

Responses

  1. yakin karna Allah

  2. Allahu Akbar…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: